Pengalaman yang mungkin bisa dianggap tidak terlupakan dalam beberapa minggu ini. Pada hari rabu tanggal 7 September 2011 kemarin aku dan rekan2ku Sarono, Finis, Sari, Somat, Mega, Mbak Wulan, Mbak Ika, Mbak Novi ditambah saudara Ardan yang akhirnya bersedia ikut (walau hanya sebagai kurir) melakukan perjalanan keutara menuju suatu tempat yang biasa dikenal dengan Gunung Merbabu.Perjalanan dimulai Rabu pagi sekitar pukul 8 (seharusnya), karena beberapa hal jadi terlambat, tapi itu bukan masalah. Langsung saja basa-basinya, sekitar jam 12 kita sampai di base camp. Aganda kembali sesuai jadwal yaitu mendaftar, istirahat, solat, dan pemberangkatan. Berangkat dari base camp sekitar jam 1. Baru beberapa langkah beban dipundak sudah mulai terasa. Maklum lah, orang awam mau belajar mendaki. Mulailah perjalanan yang mendebarkan (lebay). Alkisah, sebelum pemberangkatan kita deberikan perbekalan berupa sebuah peta jalur pendakian dan beberapa pesan (pesan ga penting (abaikan saja lah)). Peta yang dibawa tadi kita pelajari selama perjalanan. Sebagai seorang geograf sejati (impian belaka) kita dituntut untuk bisa membaca peta dan keadaan sekitar dalam mencari jejak dan bertahan hidup. Kisah berlanjut, peta yang tadi dibawa hanya sedikit berguna (jangan percaya 100% pada peta). Jarak dan estimasi lama perjalanan dalam peta tidak sesuai dengan kenyataan.
Perjalanan dimulai dari base camp, mengikuti jalur sampai pada pos bayangan 1, ikuti jalur lagi beberapa saat kemudian bertemu pos bayangan 2 yang ada sumber mata airnya. Ini adalan pos yang lumayan penting (mulai serius). Perjalan dilanjutkan dan beberapa saat setelah itu akan menjumpai pos 1 Watu Putut. Sebagai catatan, ingat jalur apa yang ingin dilalui. Karena pada evaluasi kali ini ternyata kita salah jalur pendakian. Jalur yang seharusnya dilalui adalah jalur Wekas, tapi kita ternyata melalui jalur Cunthel (hehehe… maklum amatir). Lanjut ke perjalanan, dari pos 1 ke pos 2 Kedokan seperti perjalanan sebelumnya langsung ketemu dengan lancarnya. Bergitu juga perjalanan dari pos 2 ke pos 3 Kergo Pasar. Hanya karena waktu tidak terlalu memungkinkan untuk kita meneruskan perjalanan kita terpaksa menginap di pos 3. Dengan berbekal 2 buah dome kita mendirikan tenda, membuat api unggun, masak, dan istirahat hingga matahari kembali terbit.
Saat sang surya kembali muncul saatnya berbenah dan meneruskan perjalanan. Perjalanan berlanjut dari sekitar pukul 7 pagi hari Kamis tanggal 8 Sepetember 2011. Perjalanan dari pos 3 ke pos 4 berjalan lebih cepat dari target. Dengan semangat 45 kita sampai di pos 4 Menara Pemancar, istirahat sejenak dan meneruskan perjalanan. Perjalanan berikutnya kita melalui Jembatan Setan (hanya nama). Jembatan ini bukan berupa jembatan buatan, melainkan berupa jalan setapak, terjal dan pada kanan dan kirinya jurang. Kita berjalan santai (masih dengan semangat) sampai di pos 5 Helipad. Tidak terlihat seperti pos hanya membentuk lingkaran (mungkin untuk pendaratan Helipad). Perjalanan dilanjutkan. Walau suhu udara panas dingin kita tetap semangat meneruskan perjalanan. Sampailah di puncak Geger Sapi. Sebenarnya ini bukan puncak merbabu, melainkan hanya puncak salah satu bukit. Lanjut, perjalanan menuju puncak yang sesungguhnya. Setelah melewati beberapa tanjakan dan turunan sampailah pada salah satu puncak merbabu yang terkenal yaitu puncak Keteng Songo (sayang sekali aku tidakikut sampai puncak karena beberapa masalah). Katanya sih bagus.
Jam menunjukkan pukul 1 siang. Saatnya turun gunung. Jalan turun ternyata lebih menyenangkan. Hanya dalam waktu yang sebentar kita sudah dapat melewati perjalanan kembali dari puncak menuju base camp. Perjalanan dari jam 1 sampai waktu tenggelam matahari kita sudah dapat mencapai titik pos 2 dan waktu selanjutnya digunakan untuk sampai pada base camp. Dari jam 6 sore sampai 9 malam itu. Perjalanan yang melelahkan dengan sisa2 air dan tenaga, dengan berbalut debu dan beban tubuh serta barang bawaan melengkapi rasa lelah.

Begitulah perjalanan pertama kita mencapai puncak Merbabu. Senang, susah, capek, canda, tawa, keluh, kesah, selama perjalanan terbayar saat mencapai puncak dan kembali dengan selamat. Merbabu O’yeaH.